Unversitas Al Azhar dan Haruka EDU Tanda Tangani MoU Pengadaan Kuliah Hybrid

Unversitas Al Azhar dan Haruka EDU Tanda Tangani MoU Pengadaan Kuliah Hybrid

Universitas Al Azhar Indonesia merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Indonesia. Universitas Al Azhar Indonesia atau yang biasa disebut dengan UAI ini berdiri pada tahun 2000 di bawah naungan Yayasan Pensantren Islam (YPI) Al Azhar. Sebagai perguruan tinggi yang terbilang baru, UAI didesain sebagai pusat pengetahuan dan pembentukan karakter yang merangkul semua kalangan masyarakat. Demi menciptakan hal tersebut, baru-baru ini UAI dan Haruka EDU menandatangani Memorandung of Understanding (MoU). Penandatangan MoU ini terkait dengan pegembangan Hybrid Learning yang akan diadakan oleh UAI. Pengadaan kelas online ini bertujuan sebagai bentuk persiapan UAI untuk menghadapi era digital dan juga Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Seperti yang Anda tahu,Hybrid Learning atau metode kombinasi sistem pembelajaran tatap muka dan daring (online) diharapkan dapat memberi kontribusi bagi masyarakat mendapat kemudahan dalam dunia pendidikan tinggi yang lebih terjangkau. Selain itu juga wujud program pemerintah melalui Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi dalam Penyelenggaraan Pendirikan Jarak Jauh (PJJ). Dengan demikian, sistem pembelajaran online sekaligus dapat meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Tanah Air.

Hal tersebut dikemukakan Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Prof Dr Asep Saefuddin, seusai penandatanganan kerjas ama program hybrid learning antara UAI dan lembaga pendidikan HarukaEdu di Kampus UAI Jakarta, Selasa (27/2). Asep Saefuddin menjelaskan, saat ini APK pendidikan tinggi Indonesia berada pada kisaran 29% dengan angka kelulusan di bawah 10%. Sedangkan lulusan sarjana dan diploma hanya 8%.

Di lain pihak, negara sahabat di kawasan ASEAN, seperti Singapura, telah berhasil meluluskan sarjana 29% dan Malaysia 19%. Adapun metoda pembelajaran kombinasi atau campuran tersebut mengombinasikan pembelajaran tatap muka dan juga daring. Namun untuk porsinya masih lebih banyak tatap muka, yakni 51% dan 49% pembelajaran daring.

Wakil Rektor UAI, Agus Surono, menambahkan, pihaknya untuk sementara memberlakukan sistem pembelajaran ini pada Program Studi Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Hukum. Adapun sasaran utama program hybrid learning menyasar para pekerja di kawasan Jabodetabek serta lulusan SMA sederajat yang ingin meraih jenjang sarjana S1 dengan biaya terjangkau.

“Kita berharap dengan ini harapan masyarakat meraih pendidikan tinggi dapat terwujud,” tandas Agus.

Pada acara penandatanganan MoU tersebut, Co-Founder HarukaEDU, Dr Gerald Ariff, menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan UAI dan juga sembilan kampus perguruan tinggi swasta lainnya. Adapun teknis pembelajaran daring dalam kerja sama dengan UAI dan kampus lain ini mengacu pada peraturan pemerintah yakni tidak melebihi 50% yang didaringkan.

Sedangkan untuk materi perkuliahan mengacu pada silabus yang ditetapkan kampus, HarukaEdu membantu penyediaan sarana pendukung seperti konten, seminar, live, dan diskusi. ‘platform‘ diskusi adalah keunggulan sistem pembelajaran daring ini, yang disediakan oleh HarukaEDU. Karena platform ini amat memudahkan siswa kelas Hybrid Learning UAl untuk belajar kapan pun dan dimana saja.

  • Social Links: